Pembangkit listrik tenaga surya adalah pembangkit listrik yang mengubah energi surya menjadi energi listrik. Pembangkitan listrik bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung menggunakan photovoltaic dan secara tidak langsung dengan pemusatan energi surya. Photovoltaic mengubah secara langsung energi cahaya menjadi listrik menggunakan efek fotoelektrik. Pemusatan energi surya menggunakan sistem lensa atau cermin dikombinasikan dengan sistem pelacak untuk memfokuskan energi matahari ke satu titik untuk menggerakan mesin kalor.
Di Indonesia, PLTS terbesar pertama dengan kapasitas 2×1 MW terletak di Pulau Bali, tepatnya di dearah Karangasem dan Bangli. Pemerintah mempersilakan siapa saja untuk meniru dan membuatnya di daerah lain karena PLTS ini bersifat opensource atau tidak didaftarkan dalam hak cipta.[1] Selain di Pulau Bali, Indonesia juga telah mengembangkan di Kabupaten Luwu Timur, Makasar dan kepulauan Sumbawa, NTB. PLTS ini ditujukan kepada wilayah terpencil yang sulit dijangkau oleh PT. PLN.
Matahari Untuk PLTS di Indonesia
Pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi
alternatif untuk mengatasi krisis energi, khususnya minyak bumi, yang terjadi
sejak tahun 1970-an mendapat perhatian yang cukup besar dari banyak negara di
dunia. Di samping jumlahnya yang tidak terbatas, pemanfaatannya juga tidak
menimbulkan polusi yang dapat merusak lingkungan. Cahaya atau sinar matahari
dapat dikonversi menjadi listrik dengan menggunakan teknologi sel surya atau
fotovoltaik.
Komponen utama sistem pembangkit listrik tenaga surya
(PLTS) dengan menggunakan teknologi fotovoltaik adalah sel surya. Saat ini
terdapat banyak teknologi pembuatan sel surya. Sel surya konvensional yang
sudah komersil saat ini menggunakan teknologiwafer silikon
kristalin yang proses produksinya cukup kompleks dan mahal. Secara umum,
pembuatan sel surya konvensional diawali dengan proses pemurnian silika untuk
menghasilkan silika solar grade (ingot), dilanjutkan
dengan pemotongan silika menjadi wafer silika. Selanjutnya wafer silika
diproses menjadi sel surya, kemudian sel-sel surya disusun membentuk modul
surya. Tahap terakhir adalah mengintegrasi modul surya dengan BOS (Balance
of System) menjadi sistem PLTS. BOS adalah komponen pendukung
yang digunakan dalam sistem PLTS seperti inverter, batere, sistem kontrol, dan
lain-lain.
Saat ini pengembangan PLTS di Indonesia telah
mempunyai basis yang cukup kuat dari aspek kebijakan. Namun pada tahap
implementasi, potensi yang ada belum dimanfaatkan secara optimal. Secara
teknologi, industri photovoltaic (PV) di Indonesia baru mampu
melakukan pada tahap hilir, yaitu memproduksi modul surya dan
mengintegrasikannya menjadi PLTS, sementara sel suryanya masih impor. Padahal
sel surya adalah komponen utama dan yang paling mahal dalam sistem PLTS. Harga
yang masih tinggi menjadi isu penting dalam perkembangan industri sel surya.
Berbagai teknologi pembuatan sel surya terus diteliti dan dikembangkan dalam
rangka upaya penurunan harga produksi sel surya agar mampu bersaing dengan
sumber energi lain.
Mengingat ratio elektrifikasi di Indonesia baru
mencapai 55-60 % dan hampir seluruh daerah yang belum dialiri listrik adalah
daerah pedesaan yang jauh dari pusat pembangkit listrik, maka PLTS yang dapat
dibangun hampir di semua lokasi merupakan alternatif sangat tepat untuk
dikembangkan. Dalam kurun waktu tahun 2005-2025, pemerintah telah merencanakan
menyediakan 1 juta Solar Home System berkapasitas 50 Wp untuk
masyarakat berpendapatan rendah serta 346,5 MWp PLTS hibrid untuk daerah
terpencil. Hingga tahun 2025 pemerintah merencanakan akan ada sekitar 0,87 GW
kapasitas PLTS terpasang.
Dengan asumsi penguasaan pasar hingga 50%, pasar energi surya di
Indonesia sudah cukup besar untuk menyerap keluaran dari suatu pabrik sel surya
berkapasitas hingga 25 MWp per tahun. Hal ini tentu merupakan peluang besar
bagi industri lokal untuk mengembangkan bisnisnya ke pabrikasi sel surya.
keyword: solar cell ketapang kal-bar,solar panel ketapang kal-bar
keyword: solar cell ketapang kal-bar,solar panel ketapang kal-bar

